Siasat Sang Pemuda: Part I

I'm Sorry I Love You

Harap maklum jika kata SAYA di sini diganti JA’O (biar lebih NGENDE… he..he..he..)

Pertama kali sampe di Ende ja’o tinggal di rumah orangtua angkat bokap ja’o di Jl. Melati. Namanya bapak Lalu Ridwan. Beliau seorang pensiunan tentara dan sehari-harinya jadi imam di langgar (ja’o lupa nama langgar itu) yang letaknya tepat di belakang rumah beliau. Waktu itu tahun 1992.
Kebetulan rumah kakek itu dekat dengan asrama putri anak-anak MAN, jadi setiap sore setelah mandi dan memakai minyak rambut cap MILLIONAIRE (he3x masih ada gak ya minyak rambut itu) ja’o mejeng di depan asrama putri itu sambil ngecengin cewek-cewek MAN. Berhubung ja’o waktu itu cukup supel dan lumayan ganteng (ehm) maka ja’o cepat akrab dengan cewek-cewek penghuni asrama itu.
Alhasil, baru tiga hari bergaul dengan makhluk-makhluk itu ja’o sudah mendapat cewek bernama Ida. Dia ngaku dari Nangapanda (kalo gak salah). Menurut ja’o si Ida ini walaupun orangnya agak ‘ndeso’ tapi perhatian banget. Ja’o ingat ja’o selalu dibelikan rokok (sebelum masuk STM ja’o memang sudah merokok). Jadilah si Ida dompet ja’o yang pertama di Kota Ende.
Kebiasaan ‘baik’ ja’o bersilaturahmi ke asrama putri ternyata tidak lepas dari pengawasan sang kakek yang ‘kejam’ dan wuihh… disiplinnya minta ampun (mungkin karena pensiunan tentara kali, ye..?). Priiiiiiiittttt, ja’o langsung dapat kartu kuning. “Kalo kau mau sekolah, kau boleh tetap tinggal di sini. Tapi kalo kau ke sini hanya untuk cari perempuan, besok kau kukirim balik ke Larantuka!” Gedubrakk!! (Itu bukan bunyi pintu dibanting atawa ja’o jatuh pingsan, tetapi bunyi jantung ja’o yang mau lepas!). Alamak, apa kata dunia kalo ja’o sampai dipulangkan ke Larantuka? Terbayang ja’o bakal disetrap habis-habisan oleh bokap ja’o, sebab ja’o tahu apapun alasan ja’o bokap ja’o pasti lebih percaya omongan bapak angkatnya.
Sejak saat itu ja’o dilarang keluar rumah kecuali ke langgar untuk sholat jama’ah. Itupun dalam pengawasan ketat! Sehari dua hari memang belum terasa, ja’o enjoy aja. Toh, mengurung diri di kamar sambil baca buku atau dengerin musik (dua-duanya hobby ja’o) bukanlah pekerjaan sulit, pikir ja’o. Tapi lama kelamaan ja’o bosan juga. Apalgi ja’o mulai dihinggapi rasa kangen. Kangen sama Ida, tentu saja. Ida-ku yang manis itu pasti plengak-plengok nyari ja’o. Wah, kalo begini terus ja’o bisa mati menahan rindu!
Ja’o mulai memutar otak mencari cara agar bisa keluar dari rumah itu dan bertemu Ida, walau sesaat saja, hanya untuk melepas rindu yang sudah menggunung…… (hi..hi…hi….).
PLAN A: Ja’o minta ijin ke ‘komandan’ untuk belanja keperluan ja’o. Jawaban yang ja’o terima, “Kau ada keperluan apa-apa bilang saja ke nenek kau, biar beliau yang beli. Belanja itu urusan perempuan. Lagipula kau tidak tahu jalan ke pasar!” Ja’o tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Plan A: GAGAL!
PLAN B: Ja’o nyetel musik keras-keras di kamar sambil ikut bernyanyi dengan suara yang tidak kalah kerasnya. Harapan ja’o ada dua; pertama, biar si Ida bisa mendengar jeritan hati ja’o, eh maksudnya suara ja’o yang walaupun sember namun semoga bisa mengobati rasa rindunya kepada ja’o. Kedua, pak komandan akan marah lalu menggedor-gedor pintu kamar ja’o dan berteriak, “matikan musik itu atau kau keluar dari rumah ini!” Ja’o pasti pilih yang kedua, keluar dari rumah itu dan berteriak MERDEKA! Tapi meski suara ja’o hampir habis karena menyanyi (tepatnya berteriak) hampir sepanjang hari, tidak ada reaksi apa-apa dari penghuni rumah yang lain, apalagi pak komandan. Yang ada justru ja’o mendapat ultimatum baru, “Setiap kali masuk waktu sholat, kau pukul itu bedug lalu azan!” Alasannya, “Suara kau cukup lantang!” Mampus deh, ja’o! ……………… (bersambung)

Antara Aku, Bunga dan Luna Maya

DreamCatcher

“Bah, apalah artinya sebuah mimpi. Mimpi itu kan cuma bunga tidur,” kata Togar, sohib kentalku, ketika aku bercerita padanya bahwa aku bermimpi. “Tapi ini lain, Gar,” ujarku mencoba memberi penjelasan. “Lain macam mana maksud kau?” potong Togar cepat. “Mimpi dari jaman nenek moyang kita, ya,  begitu itu. Kau ngantuk lalu kau tertidur, bermimpilah kau sambil mendengkur.” Sejurus kemudian ia menarik bangku panjang di depan warung Mbok Surti, mengibas-ngibaskan tangan kemudian duduk di atasnya..

“Kopi dua, Mbok,”

“Sek, sek, sek, sopo seng mbayar iki?” tanya Mbok Surti.

“Ya si Puken lah!” sahut Togar seenaknya sambil mencomot pisang goreng.

:”Lha , kok, gue yang bayarin? Kan lo yang mesen!” Aku membela diri.

“Begini, sobat,” jelas Togar sambil menepuk pundakku, “Kau sudah menghabiskan sisa energiku pagi ini dengan mengajak aku berdiskusi tentang mimpi kau itu. Nah, sekarang energiku sudah habis. Aku kelaparan dan kau wajib menggantinya dengan mentraktirku minum kopi.”

“Tapi gue belon selesai cerita.”

“Nantilah setelah aku menghabiskan pisang-pisang goreng ini baru kau lanjutkan cerita kau. Aku siap mendengar!”

“Janji, ya?”

“Tenang saja! Aku si Togar, sahabat kau sekaligus pendengar  yang baik,” usai berkata begitu dua potong pisang goreng lagi sekaligus masuk ke mulutnya yang besar. Aku menyeruput kopiku lalu menyalakan rokok. Togar masih terus mengunyah sambil sesekali menghirup kopinya dalam-dalam. Sahabatku yang satu ini memang unik. Meski memiliki pekerjaan dengan gaji lumayan, tapi bawaannya seperti pengangguran saja. Buntu selalu! Utangnya ada di mana-mana, termasuk di warung Mbok Surti ini. Mbok Surti sendiri adalah pemilik warung tempat aku dan Togar biasa ngopi sebelum masuk kerja. Aku dan Togar bekerja di kantor yang sama, yaitu di sebuah percetakan yang tergolong tua di kota ini. Pemiliknya, Pak Arman adalah seorang Melayu yang mewarisi percetakan ini dari almarhum ayahnya. Kami sama-sama bekerja  di bagian produksi, hanya bedanya Togar seorang operator mesin cetak sedangkan aku bekerja sebagai tukang setting.

“Nah, kenyang aku!” seru Togar mengagetkanku. “Kemarikan rokok kau!” Aku menyodorkan kotak rokok, Togar menariknya sebatang kemudian menyulutnya. Asap mengepul-ngepul menutupi wajahnya yang kasar. “Ayo, lanjutkan cerita kau!” serunya kemudian.

Aku menarik nafas sesaat.

“Begini, sobat!” aku memulai ce rita. “Lo kan tau kalo gue suka mengikuti perkembangan politik di negeri kita. Baca koran, nonton berita di tv, internet, pokoknya lo tau sendiri deh gue gak pernah ketinggalan informasi apapun mengenait perkembangan politik di negara kita”.

“Betul itu! Seperti pengamat politik saja kau!”

“Nah, apalagi menjelang pilpres ini, Gar! Suhu politik dalam negeri kita memanas!  Dari tiga kandidat pasangan presiden, masing-masing mengklaim sebagai yang terbaik dan lebih memikirkan kepentingan rakyat. Gue, sebagai pengamat politik kecil-kecilan seperti yang lo bilang tadi, gak mau tertipu begitu saja oleh slogan-slogan mereka. Ah, seperti orang kampanye biasanyalah, banyak mengumbar janji! Diam-diam gue mencoba membuat analisis siapa kira-kira yang bakal keluar sebagai pemenang dalam pilpres kali ini. Yah, paling enggak, dari hasil analisis gue, gue bisa menentukan siapa yang bakal gue pilih!”

“Nah, siapa menurut kau?” sergah Togar.

“Itu dia masalahnya! Sampai detik inipun, boro-boro gue bisa memprediksi siapa yang bakal menang, untuk menentukan pilihan sendiri aja gue masih bingung!”

“Apa sebabnya?”

“Menurut analisis gue, ketiga kandidat pasangan presiden kita punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Di satu sisi sang calon presiden punya banyak kelebihan tapi di sisi lain kompatriotnya justru yang banyak kekurangan atau minimal track record-nya yang kurang bagus.  Okelah si calon presiden nomor urut 1,2 atau 3 kita tahu kapabilitas politiknya,  kita bisa ukur kekuatan massanya, dan yang gak kalah penting nih, kemampuan finansialnya! Kampanye calon presiden gini hari butuh dana besar, men! Cuma yang sangat gue sayangkan adalah keputusan para calon presiden itu dalam menentukan pasangannya, calon wakil presiden!”

“Apa menurut kau mereka tidak pantas, begitu?” tanya Togar dengan mimik serius.

“Ini bukan masalah pantas tidak pantas, men! Dalam urusan memimpin, siapa sih yang meragukan kepantasan mereka? Mereka itu orang-orang yang pernah menjadi top leader di negara ini, tentu saja dalam bidangnya masing-masing. Masalahnya adalah di antara mereka ada yang pernah mencatat record buruk selama jadi pimpinan, ada juga yang dikait-kaitkan dengan penguasa lama, bahkan ada yang selama menjabat membuat keputusan-keputusan yang sampai detik ini masih kontroversial.”

“Panjang kali analisis politik kau! Singkat sajalah! Hei, kau lihat ini sudah jam berapa? Lagipula hari ini tanggal 1, kita gajian. Aku tak mau gajiku ditunda gara-gara terlambat masuk hari ini. Seperti tak tau saja kau watak si Arman!”

Aku melirik arloji di tangan kiriku, pukul 07.51. Masih ada waktu sembilan menit. Lagipula kantor kami letaknya memang tak jauh dari warung Mbok Surti. Persis di seberang jalan.

“Oke, bos! Singkat saja,” lanjutku kemudian.

“Lantas apa hubungan analisis kau itu dengan mimpi kau? Bah, sampai detik inipun aku tak tahu apa mimpi kau!”

“O iya, gue sampe lupa! Begini, Gar! Saking kepikirannya gue tentang siapa yang bakal jadi presiden, gue sampe kebawa mimpi. Dan lo tau siapa yang jadi presiden dalam mimpi gue?”

“Siapa?”

“Nah, lo ingat kan banci di ujung jalan sono yang sering lo godain tiap kali kita pulang lembur malam? Itu tuh, banci yang sering lo tarik-tarik rok mininya sambil tertawa tapi dia cuma bilang, aduh jangan, mas! Jangan nodai aku, dong…!”

“Ha, ha, ha…..! Si Bunga maksud kau?”

“Betul! Nah, dia yang jadi presiden dalam mimpi gue!”

“Hah? Ha, ha, ha…..!” Togar tertawa keras sampai Mbok Surti yang sedang menuangkan air panas ke dalam gelas kaget dibuatnya. Hampir saja air panas itu tumpah mengenai Mbok Surti.

“ Owalah, Gar, Gar! Ngguyu kok medeni koyo demit! Iiihh, amit-amit!” gerutu Mbok Surti sambil mengelap meja yang basah terkena air panas tadi.

“ Si Puken ini, Mbok Surti! Ada-ada saja dia! Masa dia bilang Bunga si banci kaleng itu menjadi presiden Republik Indonesia? Tak salah kau, Ken? Apa kata dunia….. Ha….ha…ha….!!”.

Aku membiarkan saja Togar tertawa sambil menghirup sisa kopiku.

“Secara logika itu bisa saja terjadi, men!” ujarku setelah tawanya mereda. “Si Bunga itu seorang warga negara Indonesia. Asal lo tau aja, ya, salah satu syarat untuk menjadi presiden di negara kita ini adalah si calon presiden harus orang Indonesia asli. Lha, si Bunga itu kan orang Indonesia asli. Lagipula tidak disebutkan di dalam undang-undang presiden itu harus seorang laki-laki, atau harus seorang perempuan, atau yang terletak di antara keduanya. Coba kita berandai-andai, anggap saja suatu saat si Bunga mendirikan sebuah partai, katakanlah  Partai Banci Bersatu misalnya. Si Bunga menjadi ketua umum partai lalu pada pemilu legislatif partainya memperoleh suara terbanyak. Terus si Bunga diajukan sebagai calon presiden dari partai tersebut. Eh, ternyata dalam pemilu presiden si Bunga menang mutlak. Apakah ada alasan untuk menolak dia sebagai presiden? Coba lo jawab!”

“Jawabanya nanti sajalah,” ujar Togar seenaknya sambil mengirup sisa kopi di gelasnya yang tinggal ampas. “Kau tak lihat si Arman sudah mondar-mandir di depan kantor? Jam dua belas nanti baru kau sambung lagi cerita kau sambil kau traktir aku makan siang! Setuju?”

“Setuju nenek moyang lo! Lo curang! Udah gue traktir minum kopi cerita gue kagak lo dengerin sampe tuntas. Payah, lo!” umpatku sambil berjalan mendahului Togar. Kulirik arlojiku, pukul 07.58. Sip!

*****

“Kali ini lo yang traktir gue!” seruku begitu kami tiba di warung Mbok Surti. “Nggak ada alasan lo nggak punya duit hari ini. Kemarin lo baru gajian. Oke?”

“Oke, coy! Aku si Togar makhluk paling sportif di muka bumi,” balas si Togar menyombongkan diri. “Mbok Surti, kopi dua!”

“Utangmu piye?” tanya Mbok Surti.

“Tenang saja, Mbok. Hari ini semua hutang-hutangku kubayar lunas. Tapi sebelum itu, aku minta kopi dua! Mengerti?” Halah, belagu lo, Gar, cibirku dalam hati.

Sambil menunggu kopi aku merogoh kantong celanaku mengambil rokok.

“Eit, simpan saja rokok kau,” Togar menahan tanganku. “Hari ini kau isap saja rokok aku. Biar adil, he..he..he…!” Ia mengeluarkan sebungkus rokok putih dan korek api dari kantong kemejanya. Weh, tajir nih kawan hari ini, pikirku. Aku mengambilnya sebatang lalu menyulutnya.

“Gue mimpi lagi semalam,” kataku membuka omongan.

“Si Bunga lagi?” tanya Togar.

“Bukan! Gue mimpi Luna Maya!”

“Hah? Sebentar, sebentar! Kau tahan dulu cerita kau itu. Kopi sudah datang. Biarkan aku menikmati kopinya dulu lalu melumat pisang goreng-pisang goreng ini baru kau cerita. Kalau perut aku kenyang aku lebih konsentrasi menyimak cerita kau.”

“Tumben lo tertarik sama cerita mimpi gue. Kesambet setan mana lo barusan?”

“Begini, sobat! Kalo urusannya Luna Maya, berarti aku wajib terlibat.”

“Terlibat apanya, lagian ini cuma mimpi gue doang! Apa urusannya lo sama Luna  Maya?”

“Apa kau tak lihat ruang mesin tempat aku bekerja, penuh gambar siapa coba? Luna Maya, kan? Untung mesinnya tak kupasangi Luna Maya, bisa mengamuk si Arman. Aku ini penggemarnya nomor satu. Paham kau?”

“O gitu…,” kataku seperti maklum. “Beruntung Luna Maya nggak tau kalo dia punya penggemar kayak lo.”

“Memangnya kenapa?”

“Bisa pensiun dia jadi Luna Maya! Ha…ha..ha….!!!” Togar langsung cemberut. Mampus lo! Gantian gue yang ngetawain lo! Mbok Surti yang sejak tadi diam saja ikut terpingkal-pingkal melihat raut muka Togar yang cemberut. Pisang goreng, busyet deh, kali ini tiga sekaligus diremasnya dengan kedua tangannya yang kekar sebelum meluncur ke mulutnya. Aku meneruskan ngopi sambil menunggu dia menyudahi pisang gorengnya.

“Nah, sekarang teruskan cerita kau. Ada apa dengan cintaku si Luna Maya itu?”

“Wah, sorry nih, Gar! Tadinya sih gue semangat banget mau ceritain mimpi ini ke lo. Tapi setelah gue tau lo adalah penggemarnya yang nomor satu, gue jadi nggak demen nyeritainnye. Nggak enak hati gue ama lo!”

“Tak apa-apa.  Asal tak kau apa-apakan si Luna Maya dalam mimpi kau!”

“Itu dia masalahnya. Semalam gue mimpi kawin sama Luna Maya.”

“Apa kau bilang? Kawin sama Luna Maya? Tak salah dengar kuping aku?”

“Memang gue mimpinya begitu!”

“Ah, ngaco kau! Mana ada si Luna Maya mau kawin sama kau? Memangnya kau siapa? Hah? Ken, Ken!  Tampang macam kau ini jangankan di dunia nyata, di alam mimpi pun kau tak laku!”

“Kenapa jadi lo yang sewot. Orang mimpi-mimpi gue! Lagian, Gar, gak ada istilah mustahil dalam kamus gue. Segalanya bisa terjadi, men!”

“Terjadi macam mana maksud kau? Coba kau kasih tahu alasannya sama aku!”

“Begini, men! Luna Maya kan cantik…….”

“Cantik kali dia. Siapa yang bilang dia jelek?”

“Denger dulu, main nyela aja  lo kayak bajaj. Nah, dia kan cantik so pasti dong banyak pria ganteng yang suka sama dia. Salah satunya adik gue tuh si Ariel. Suatu saat karir Luna Maya meredup seiring dengan banyaknya pendatang baru di dunia entertainment. Wajahnya udah mulai jarang nongol di tipi. Job sepi. Para pria ganteng itupun satu-persatu mulai menjauhinya. Lama kelamaan, namanya bahkan mulai dilupakan orang. Tapi bukan si Luna Maya namanya kalo gak bikin sensasi. Dia berpikir, dulu gue tenar gara-gara gue bikin sensasi merebut suami orang. Sekarang karir gue meredup. Gue harus bikin sensasi lagi nih biar mata dunia tertuju ke gue lagi. Tapi sensasi apa, ya……..?? Ting-ting! Dalam kebingungannya mencari sensasi apa yang bakal dibuat, dia ketemu sama gue. Secara gak sengaja, sih, dalam sebuah acara sosial dimana gue jadi panitianya.”

“Acara apa itu? Kok aku tak kau ajak, Ken?”

“Mana gue tau! Gue cuma dikasih informasi segitu doang dalam mimpi gue. Pas dia ketemu gue, men, dia  terpesona! Takjub! Dia memandang gue dalam-dalam lalu berkata dalam hatinya, ini dia yang gue cari. Ini yang bakal jadi sensasi gue berikutnya…… Lalu perlahan dia berjalan mendekati gue. Gue tatap matanya, Gar! Wuih, penuh hasrat, men! Singkat cerita, gue kemudian ka………..”

“Stop, stop, stop! Tak perlu kau teruskan cerita kau….”

“Kenapa emangya? Kan gue belon selesai cerita?”

“Aku sudah bisa menebak apa kelanjutan cerita kau. Kemudian kau kawin dengan si Luna Maya, dunia hiburan pun geger, beritanya ada di mana-mana, liputannya muncul di setiap infotainment, lantas nama Luna Maya mengorbit kembali…… Begitu kan akhir cerita kau?”

“Kok, lo tau, sih?”

“Bah, itu bualan kau saja. Kebanyakan nonton bokep kau!” serunya kesal sambil berlalu meninggalkan aku.

“Woi, mau kemana lo?

“Aku mau masuk kerja!” Dalam sekejap ia sudah tiba seberang jalan.

“Togaaaar…!! Hutangmu piye……?,” jerit Mbok Surti.

“Besok sajalah! Aku sudah tak mood hari ini……!” teriaknya begitu saja.

“Wooo, dasar gemblung!” Mbok Surti menghentak-hentakan kakinya ke tanah. Wah, kayaknya bakal hujan, nih! Cabut dulu, ah! (*)

Pintu

old open door

Pintu itu sudah lama kubuka

Namun kau tak jua masuk

Kau hanya berdiri

Diam menatap lantai yang t’lah retak kau pijak

Pintu itu masih terbuka

Di luar hujan menerpa daun

Dan malam semakin menggigil

Kutahu aku terlalu

Tapi tak begini cara bicara

Pintu itu tetap kubuka

Dan bibirmu semakin biru

UTOPIA DUNIA MAYA

utopia dunia maya

Plato, sang filsuf Yunani Kuno, sedikitpun tidak ragu ketika ia mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, maka manusia tidak terlepas dari kodratnya untuk bergaul dan berinteraksi dengan manusia-manusia lain baik dalam skala besar seperti negara bangsa, ataupun hanya dalam sebuah komunitas “kecil” semacam Facebook.

Sayangnya, sifat sosial manusia bukanlah sesuatu yang selalu positif dan patut dibanggakan. Sejarah manusia selalu penuh dengan perang, pembunuhan dan kekerasan sebagai akibat dari model interaksi sosial yang cenderung dipaksakan dari satu manusia ke manusia lain, oleh sekelompok orang kepada kelompok yang lain, bahkan oleh suatu negara kepada negara lain!

Sistem pemerintahan, apapun bentuknya, hanyalah buah pikiran manusia selama berabad-abad dalam merumuskan model interaksi sosial yang paling tepat untuk suatu masyarakat. Namun sejak demokrasi jaman Yunani Kuno hingga sistem kapitalisme modern di abad 21, tidak ada satu sistem pemerintahan pun yang benar-benar ideal untuk dijadikan contoh dalam mengatur pola interaksi sosial manusia. Demokrasi rusak oleh para pendukunghya sendiri. Komunisme harus menelan kenyataan bahwa ideologi yang dianutnya hanya melahirkan tirani sementara kapitalisme modern menjadi sistem yang paling tidak manusiawi sepanjang sejarah. Sosialisme religius yang didengung-dengungkan sebagai ideologi alternatif pun kandas oleh kenyataan bahwa religiusitas tidak menjamin seseorang berperilaku sosial yang baik.

Anehnya, manusia belum juga punah hingga detik ini meski perang akibat perbedaan ideologi menjadi tema besar dalam setiap periode sejarah. Manusia-manusia terus berinteraksi dalam wilayah komunalnya sendiri-sendiri, atau dalam cakupan yang lebih luas berupa pergaulan antarbangsa di dunia internasional. Manusia tidak pernah berhenti dan tidak akan pernah kapok untuk bergaul, sebab seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini, secara kodrati manusia adalah makhluk sosial.

Kehadiran internet pun ikut menciptakan trend baru dalam interaksi sosial jaman modern: PERGAULAN DUNIA MAYA! Sebuah dunia baru yang lahir dari rahim teknologi informasi milenium ketiga; sebuah dunia yang semakin mengaburkan batas-batas sosial; sebuah dunia tanpa ideologi, tanpa mazhab; dunia yang mengabaikan lingkup geografis dan nasionalisme; SEBUAH DUNIA YANG DILIPAT dalam istilah Yasraf Amir Piliang.

Di sini, di dunia maya, sebuah komunitas akan terbangun dengan sendirinya atas dasar kesamaan ide, minat, hobi, kegilaan, tanpa campur tangan ideologi atau sistem sosial manapun. Setiap orang berhak menjadi “warga negaranya“ tanpa melihat warna kulit, suku bangsa atau agama. Tidak ada yang mempersoalkan curriculum vitae anda di sini meskipun anda seorang teroris atau penjahat perang sekalipun!

Pada akhirnya internet pun menjadi surga baru bagi manusia. Ia menjadi semacam UTOPIA dalam gambaran Thomas More enam abad silam, sebuah sistem kemasyarakatan yang sangat ideal sehingga mustahil bisa diwujudkan dalam kehidupan nyata.

FACEBOOK: Wakakak, Wikikik, dan Wekekek!

facebook

Wakakak…… Baru menulis judulnya saja perut saya sudah mulai mulas menahan geli. Saya dapat ilham menulis tentang facebook waktu sedang asyik nongkrong di kamar mandi. Harus kuakui, kamar mandi memang tempat paling mulia untuk mendapatkan ilham. Di tengah kepulan asap rokok saya tersenyum-senyum sendiri membayangkan apa yang mesti saya tulis dalam artikel ini.

Heran, belum lagi sebulan saya gabung di situs ini, facebook sudah membuat pola hidup saya yang tadinya memang tidak teratur, menjadi semakin tak karuan! (Wikikik….) Kebiasaan baik saya memanjangkan tidur sampai siang harus kalah oleh keinginan untuk segera bangun dan membereskan pekerjaan saya  lebih pagi agar siang harinya saya bisa bebas ber-facebook-ria. Istri sayapun jadi ekstra sibuk karena harus menyiapkan sarapan ganda untuk anak-anak, dan saya! Pun kebiasaan baik saya dalam menghemat pemakaian air dengan mandi hanya satu kali dalam sehari, berubah total karena saya harus sering-sering mandi biar tetap fresh dan wangi ketika berhadapan dengan facebook. Wekekek…….

Facebook merubah pola hidup saya! Bayangkan, saya harus tidur lebih awal supaya bisa bangun tengah malam, membongkar album, mencari foto jadul teman-teman, memindai, lalu men-yotoshop-nya sampai bersih dan layak dipajang di wall facebook. Belum lagi beberapa teman kalong yang spesialis online tengah malam only! Busyet,  deh! Wakakak……..

Tapi saya bangga, men! Benar-benar bangga! Berkat foto-foto jadul saya berhasil menemukan kembali teman-teman lama lewat facebook.  Niat saya waktu pertama kali gabung di facebook adalah mencari teman lama. Beberapa memang mudah ditemukan, terlebih yang memiliki nama spesifik seperti Lambertus Palang Ama atau yang langka seperti Ranet Bartolome. Tapi kalau yang dicari adalah Agus Wibisono, Sudarto, Sarwo Edi, Tommy, atau Supriyanto, walah dalah….., ada banyak nama serupa. Apalagi yang punya nama tidak ada fotonya. Alhasil, setelah diadd ternyata bukan orang yang saya cari! Saya malah balik ditanya, “Lo siapa?”. Malu saya…..(wekekek…..!!!).

Di sisi lain,  kesulitan mencari jejak teman-teman lama ini membuat naluri detektif saya terusik! (Wikikik…..) Pepatah lama, a picture worth more than a thousand words, ternyata betul sekali! Lewat foto jadul, satu demi satu teman-teman lama mulai terlacak keberadaannya. Wajah-wajah lucu dan lugu dalam foto itu membuat pemiliknya tak dapat menyembunyikan sukacita atas kenangan-kenangan lama. Memori yang terekam dalam gambar-gambar tua itu mengisyaratkan bahwa kita pernah bertemu, bertemandan bergaul bersama dalam sebuah periode waktu yang mungkin kita sudah lupa detilnya. Thanks facebook! Wakakak…wikikik…..wekekek…!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.