
Harap maklum jika kata SAYA di sini diganti JA’O (biar lebih NGENDE… he..he..he..)
Pertama kali sampe di Ende ja’o tinggal di rumah orangtua angkat bokap ja’o di Jl. Melati. Namanya bapak Lalu Ridwan. Beliau seorang pensiunan tentara dan sehari-harinya jadi imam di langgar (ja’o lupa nama langgar itu) yang letaknya tepat di belakang rumah beliau. Waktu itu tahun 1992.
Kebetulan rumah kakek itu dekat dengan asrama putri anak-anak MAN, jadi setiap sore setelah mandi dan memakai minyak rambut cap MILLIONAIRE (he3x masih ada gak ya minyak rambut itu) ja’o mejeng di depan asrama putri itu sambil ngecengin cewek-cewek MAN. Berhubung ja’o waktu itu cukup supel dan lumayan ganteng (ehm) maka ja’o cepat akrab dengan cewek-cewek penghuni asrama itu.
Alhasil, baru tiga hari bergaul dengan makhluk-makhluk itu ja’o sudah mendapat cewek bernama Ida. Dia ngaku dari Nangapanda (kalo gak salah). Menurut ja’o si Ida ini walaupun orangnya agak ‘ndeso’ tapi perhatian banget. Ja’o ingat ja’o selalu dibelikan rokok (sebelum masuk STM ja’o memang sudah merokok). Jadilah si Ida dompet ja’o yang pertama di Kota Ende.
Kebiasaan ‘baik’ ja’o bersilaturahmi ke asrama putri ternyata tidak lepas dari pengawasan sang kakek yang ‘kejam’ dan wuihh… disiplinnya minta ampun (mungkin karena pensiunan tentara kali, ye..?). Priiiiiiiittttt, ja’o langsung dapat kartu kuning. “Kalo kau mau sekolah, kau boleh tetap tinggal di sini. Tapi kalo kau ke sini hanya untuk cari perempuan, besok kau kukirim balik ke Larantuka!” Gedubrakk!! (Itu bukan bunyi pintu dibanting atawa ja’o jatuh pingsan, tetapi bunyi jantung ja’o yang mau lepas!). Alamak, apa kata dunia kalo ja’o sampai dipulangkan ke Larantuka? Terbayang ja’o bakal disetrap habis-habisan oleh bokap ja’o, sebab ja’o tahu apapun alasan ja’o bokap ja’o pasti lebih percaya omongan bapak angkatnya.
Sejak saat itu ja’o dilarang keluar rumah kecuali ke langgar untuk sholat jama’ah. Itupun dalam pengawasan ketat! Sehari dua hari memang belum terasa, ja’o enjoy aja. Toh, mengurung diri di kamar sambil baca buku atau dengerin musik (dua-duanya hobby ja’o) bukanlah pekerjaan sulit, pikir ja’o. Tapi lama kelamaan ja’o bosan juga. Apalgi ja’o mulai dihinggapi rasa kangen. Kangen sama Ida, tentu saja. Ida-ku yang manis itu pasti plengak-plengok nyari ja’o. Wah, kalo begini terus ja’o bisa mati menahan rindu!
Ja’o mulai memutar otak mencari cara agar bisa keluar dari rumah itu dan bertemu Ida, walau sesaat saja, hanya untuk melepas rindu yang sudah menggunung…… (hi..hi…hi….).
PLAN A: Ja’o minta ijin ke ‘komandan’ untuk belanja keperluan ja’o. Jawaban yang ja’o terima, “Kau ada keperluan apa-apa bilang saja ke nenek kau, biar beliau yang beli. Belanja itu urusan perempuan. Lagipula kau tidak tahu jalan ke pasar!” Ja’o tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Plan A: GAGAL!
PLAN B: Ja’o nyetel musik keras-keras di kamar sambil ikut bernyanyi dengan suara yang tidak kalah kerasnya. Harapan ja’o ada dua; pertama, biar si Ida bisa mendengar jeritan hati ja’o, eh maksudnya suara ja’o yang walaupun sember namun semoga bisa mengobati rasa rindunya kepada ja’o. Kedua, pak komandan akan marah lalu menggedor-gedor pintu kamar ja’o dan berteriak, “matikan musik itu atau kau keluar dari rumah ini!” Ja’o pasti pilih yang kedua, keluar dari rumah itu dan berteriak MERDEKA! Tapi meski suara ja’o hampir habis karena menyanyi (tepatnya berteriak) hampir sepanjang hari, tidak ada reaksi apa-apa dari penghuni rumah yang lain, apalagi pak komandan. Yang ada justru ja’o mendapat ultimatum baru, “Setiap kali masuk waktu sholat, kau pukul itu bedug lalu azan!” Alasannya, “Suara kau cukup lantang!” Mampus deh, ja’o! ……………… (bersambung)

Lukman Ende said,
July 20, 2009 at 04:55
Mana sambungan ceritanya?
iwan puken said,
July 20, 2009 at 06:08
on prepare! thanks, bro!
tuteh said,
September 5, 2009 at 05:42
Huahahaha… lucu ceritanya… mana lanjutannya?
asyiiikkk… ja’o… ja’o…
fajar tokan said,
October 19, 2009 at 06:16
nama musholah itu adalah Al-Ghurabah….broooo
iwan puken said,
October 21, 2009 at 06:27
wah, thanks infonya, bro!