
“Bah, apalah artinya sebuah mimpi. Mimpi itu kan cuma bunga tidur,” kata Togar, sohib kentalku, ketika aku bercerita padanya bahwa aku bermimpi. “Tapi ini lain, Gar,” ujarku mencoba memberi penjelasan. “Lain macam mana maksud kau?” potong Togar cepat. “Mimpi dari jaman nenek moyang kita, ya, begitu itu. Kau ngantuk lalu kau tertidur, bermimpilah kau sambil mendengkur.” Sejurus kemudian ia menarik bangku panjang di depan warung Mbok Surti, mengibas-ngibaskan tangan kemudian duduk di atasnya..
“Kopi dua, Mbok,”
“Sek, sek, sek, sopo seng mbayar iki?” tanya Mbok Surti.
“Ya si Puken lah!” sahut Togar seenaknya sambil mencomot pisang goreng.
:”Lha , kok, gue yang bayarin? Kan lo yang mesen!” Aku membela diri.
“Begini, sobat,” jelas Togar sambil menepuk pundakku, “Kau sudah menghabiskan sisa energiku pagi ini dengan mengajak aku berdiskusi tentang mimpi kau itu. Nah, sekarang energiku sudah habis. Aku kelaparan dan kau wajib menggantinya dengan mentraktirku minum kopi.”
“Tapi gue belon selesai cerita.”
“Nantilah setelah aku menghabiskan pisang-pisang goreng ini baru kau lanjutkan cerita kau. Aku siap mendengar!”
“Janji, ya?”
“Tenang saja! Aku si Togar, sahabat kau sekaligus pendengar yang baik,” usai berkata begitu dua potong pisang goreng lagi sekaligus masuk ke mulutnya yang besar. Aku menyeruput kopiku lalu menyalakan rokok. Togar masih terus mengunyah sambil sesekali menghirup kopinya dalam-dalam. Sahabatku yang satu ini memang unik. Meski memiliki pekerjaan dengan gaji lumayan, tapi bawaannya seperti pengangguran saja. Buntu selalu! Utangnya ada di mana-mana, termasuk di warung Mbok Surti ini. Mbok Surti sendiri adalah pemilik warung tempat aku dan Togar biasa ngopi sebelum masuk kerja. Aku dan Togar bekerja di kantor yang sama, yaitu di sebuah percetakan yang tergolong tua di kota ini. Pemiliknya, Pak Arman adalah seorang Melayu yang mewarisi percetakan ini dari almarhum ayahnya. Kami sama-sama bekerja di bagian produksi, hanya bedanya Togar seorang operator mesin cetak sedangkan aku bekerja sebagai tukang setting.
“Nah, kenyang aku!” seru Togar mengagetkanku. “Kemarikan rokok kau!” Aku menyodorkan kotak rokok, Togar menariknya sebatang kemudian menyulutnya. Asap mengepul-ngepul menutupi wajahnya yang kasar. “Ayo, lanjutkan cerita kau!” serunya kemudian.
Aku menarik nafas sesaat.
“Begini, sobat!” aku memulai ce rita. “Lo kan tau kalo gue suka mengikuti perkembangan politik di negeri kita. Baca koran, nonton berita di tv, internet, pokoknya lo tau sendiri deh gue gak pernah ketinggalan informasi apapun mengenait perkembangan politik di negara kita”.
“Betul itu! Seperti pengamat politik saja kau!”
“Nah, apalagi menjelang pilpres ini, Gar! Suhu politik dalam negeri kita memanas! Dari tiga kandidat pasangan presiden, masing-masing mengklaim sebagai yang terbaik dan lebih memikirkan kepentingan rakyat. Gue, sebagai pengamat politik kecil-kecilan seperti yang lo bilang tadi, gak mau tertipu begitu saja oleh slogan-slogan mereka. Ah, seperti orang kampanye biasanyalah, banyak mengumbar janji! Diam-diam gue mencoba membuat analisis siapa kira-kira yang bakal keluar sebagai pemenang dalam pilpres kali ini. Yah, paling enggak, dari hasil analisis gue, gue bisa menentukan siapa yang bakal gue pilih!”
“Nah, siapa menurut kau?” sergah Togar.
“Itu dia masalahnya! Sampai detik inipun, boro-boro gue bisa memprediksi siapa yang bakal menang, untuk menentukan pilihan sendiri aja gue masih bingung!”
“Apa sebabnya?”
“Menurut analisis gue, ketiga kandidat pasangan presiden kita punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Di satu sisi sang calon presiden punya banyak kelebihan tapi di sisi lain kompatriotnya justru yang banyak kekurangan atau minimal track record-nya yang kurang bagus. Okelah si calon presiden nomor urut 1,2 atau 3 kita tahu kapabilitas politiknya, kita bisa ukur kekuatan massanya, dan yang gak kalah penting nih, kemampuan finansialnya! Kampanye calon presiden gini hari butuh dana besar, men! Cuma yang sangat gue sayangkan adalah keputusan para calon presiden itu dalam menentukan pasangannya, calon wakil presiden!”
“Apa menurut kau mereka tidak pantas, begitu?” tanya Togar dengan mimik serius.
“Ini bukan masalah pantas tidak pantas, men! Dalam urusan memimpin, siapa sih yang meragukan kepantasan mereka? Mereka itu orang-orang yang pernah menjadi top leader di negara ini, tentu saja dalam bidangnya masing-masing. Masalahnya adalah di antara mereka ada yang pernah mencatat record buruk selama jadi pimpinan, ada juga yang dikait-kaitkan dengan penguasa lama, bahkan ada yang selama menjabat membuat keputusan-keputusan yang sampai detik ini masih kontroversial.”
“Panjang kali analisis politik kau! Singkat sajalah! Hei, kau lihat ini sudah jam berapa? Lagipula hari ini tanggal 1, kita gajian. Aku tak mau gajiku ditunda gara-gara terlambat masuk hari ini. Seperti tak tau saja kau watak si Arman!”
Aku melirik arloji di tangan kiriku, pukul 07.51. Masih ada waktu sembilan menit. Lagipula kantor kami letaknya memang tak jauh dari warung Mbok Surti. Persis di seberang jalan.
“Oke, bos! Singkat saja,” lanjutku kemudian.
“Lantas apa hubungan analisis kau itu dengan mimpi kau? Bah, sampai detik inipun aku tak tahu apa mimpi kau!”
“O iya, gue sampe lupa! Begini, Gar! Saking kepikirannya gue tentang siapa yang bakal jadi presiden, gue sampe kebawa mimpi. Dan lo tau siapa yang jadi presiden dalam mimpi gue?”
“Siapa?”
“Nah, lo ingat kan banci di ujung jalan sono yang sering lo godain tiap kali kita pulang lembur malam? Itu tuh, banci yang sering lo tarik-tarik rok mininya sambil tertawa tapi dia cuma bilang, aduh jangan, mas! Jangan nodai aku, dong…!”
“Ha, ha, ha…..! Si Bunga maksud kau?”
“Betul! Nah, dia yang jadi presiden dalam mimpi gue!”
“Hah? Ha, ha, ha…..!” Togar tertawa keras sampai Mbok Surti yang sedang menuangkan air panas ke dalam gelas kaget dibuatnya. Hampir saja air panas itu tumpah mengenai Mbok Surti.
“ Owalah, Gar, Gar! Ngguyu kok medeni koyo demit! Iiihh, amit-amit!” gerutu Mbok Surti sambil mengelap meja yang basah terkena air panas tadi.
“ Si Puken ini, Mbok Surti! Ada-ada saja dia! Masa dia bilang Bunga si banci kaleng itu menjadi presiden Republik Indonesia? Tak salah kau, Ken? Apa kata dunia….. Ha….ha…ha….!!”.
Aku membiarkan saja Togar tertawa sambil menghirup sisa kopiku.
“Secara logika itu bisa saja terjadi, men!” ujarku setelah tawanya mereda. “Si Bunga itu seorang warga negara Indonesia. Asal lo tau aja, ya, salah satu syarat untuk menjadi presiden di negara kita ini adalah si calon presiden harus orang Indonesia asli. Lha, si Bunga itu kan orang Indonesia asli. Lagipula tidak disebutkan di dalam undang-undang presiden itu harus seorang laki-laki, atau harus seorang perempuan, atau yang terletak di antara keduanya. Coba kita berandai-andai, anggap saja suatu saat si Bunga mendirikan sebuah partai, katakanlah Partai Banci Bersatu misalnya. Si Bunga menjadi ketua umum partai lalu pada pemilu legislatif partainya memperoleh suara terbanyak. Terus si Bunga diajukan sebagai calon presiden dari partai tersebut. Eh, ternyata dalam pemilu presiden si Bunga menang mutlak. Apakah ada alasan untuk menolak dia sebagai presiden? Coba lo jawab!”
“Jawabanya nanti sajalah,” ujar Togar seenaknya sambil mengirup sisa kopi di gelasnya yang tinggal ampas. “Kau tak lihat si Arman sudah mondar-mandir di depan kantor? Jam dua belas nanti baru kau sambung lagi cerita kau sambil kau traktir aku makan siang! Setuju?”
“Setuju nenek moyang lo! Lo curang! Udah gue traktir minum kopi cerita gue kagak lo dengerin sampe tuntas. Payah, lo!” umpatku sambil berjalan mendahului Togar. Kulirik arlojiku, pukul 07.58. Sip!
*****
“Kali ini lo yang traktir gue!” seruku begitu kami tiba di warung Mbok Surti. “Nggak ada alasan lo nggak punya duit hari ini. Kemarin lo baru gajian. Oke?”
“Oke, coy! Aku si Togar makhluk paling sportif di muka bumi,” balas si Togar menyombongkan diri. “Mbok Surti, kopi dua!”
“Utangmu piye?” tanya Mbok Surti.
“Tenang saja, Mbok. Hari ini semua hutang-hutangku kubayar lunas. Tapi sebelum itu, aku minta kopi dua! Mengerti?” Halah, belagu lo, Gar, cibirku dalam hati.
Sambil menunggu kopi aku merogoh kantong celanaku mengambil rokok.
“Eit, simpan saja rokok kau,” Togar menahan tanganku. “Hari ini kau isap saja rokok aku. Biar adil, he..he..he…!” Ia mengeluarkan sebungkus rokok putih dan korek api dari kantong kemejanya. Weh, tajir nih kawan hari ini, pikirku. Aku mengambilnya sebatang lalu menyulutnya.
“Gue mimpi lagi semalam,” kataku membuka omongan.
“Si Bunga lagi?” tanya Togar.
“Bukan! Gue mimpi Luna Maya!”
“Hah? Sebentar, sebentar! Kau tahan dulu cerita kau itu. Kopi sudah datang. Biarkan aku menikmati kopinya dulu lalu melumat pisang goreng-pisang goreng ini baru kau cerita. Kalau perut aku kenyang aku lebih konsentrasi menyimak cerita kau.”
“Tumben lo tertarik sama cerita mimpi gue. Kesambet setan mana lo barusan?”
“Begini, sobat! Kalo urusannya Luna Maya, berarti aku wajib terlibat.”
“Terlibat apanya, lagian ini cuma mimpi gue doang! Apa urusannya lo sama Luna Maya?”
“Apa kau tak lihat ruang mesin tempat aku bekerja, penuh gambar siapa coba? Luna Maya, kan? Untung mesinnya tak kupasangi Luna Maya, bisa mengamuk si Arman. Aku ini penggemarnya nomor satu. Paham kau?”
“O gitu…,” kataku seperti maklum. “Beruntung Luna Maya nggak tau kalo dia punya penggemar kayak lo.”
“Memangnya kenapa?”
“Bisa pensiun dia jadi Luna Maya! Ha…ha..ha….!!!” Togar langsung cemberut. Mampus lo! Gantian gue yang ngetawain lo! Mbok Surti yang sejak tadi diam saja ikut terpingkal-pingkal melihat raut muka Togar yang cemberut. Pisang goreng, busyet deh, kali ini tiga sekaligus diremasnya dengan kedua tangannya yang kekar sebelum meluncur ke mulutnya. Aku meneruskan ngopi sambil menunggu dia menyudahi pisang gorengnya.
“Nah, sekarang teruskan cerita kau. Ada apa dengan cintaku si Luna Maya itu?”
“Wah, sorry nih, Gar! Tadinya sih gue semangat banget mau ceritain mimpi ini ke lo. Tapi setelah gue tau lo adalah penggemarnya yang nomor satu, gue jadi nggak demen nyeritainnye. Nggak enak hati gue ama lo!”
“Tak apa-apa. Asal tak kau apa-apakan si Luna Maya dalam mimpi kau!”
“Itu dia masalahnya. Semalam gue mimpi kawin sama Luna Maya.”
“Apa kau bilang? Kawin sama Luna Maya? Tak salah dengar kuping aku?”
“Memang gue mimpinya begitu!”
“Ah, ngaco kau! Mana ada si Luna Maya mau kawin sama kau? Memangnya kau siapa? Hah? Ken, Ken! Tampang macam kau ini jangankan di dunia nyata, di alam mimpi pun kau tak laku!”
“Kenapa jadi lo yang sewot. Orang mimpi-mimpi gue! Lagian, Gar, gak ada istilah mustahil dalam kamus gue. Segalanya bisa terjadi, men!”
“Terjadi macam mana maksud kau? Coba kau kasih tahu alasannya sama aku!”
“Begini, men! Luna Maya kan cantik…….”
“Cantik kali dia. Siapa yang bilang dia jelek?”
“Denger dulu, main nyela aja lo kayak bajaj. Nah, dia kan cantik so pasti dong banyak pria ganteng yang suka sama dia. Salah satunya adik gue tuh si Ariel. Suatu saat karir Luna Maya meredup seiring dengan banyaknya pendatang baru di dunia entertainment. Wajahnya udah mulai jarang nongol di tipi. Job sepi. Para pria ganteng itupun satu-persatu mulai menjauhinya. Lama kelamaan, namanya bahkan mulai dilupakan orang. Tapi bukan si Luna Maya namanya kalo gak bikin sensasi. Dia berpikir, dulu gue tenar gara-gara gue bikin sensasi merebut suami orang. Sekarang karir gue meredup. Gue harus bikin sensasi lagi nih biar mata dunia tertuju ke gue lagi. Tapi sensasi apa, ya……..?? Ting-ting! Dalam kebingungannya mencari sensasi apa yang bakal dibuat, dia ketemu sama gue. Secara gak sengaja, sih, dalam sebuah acara sosial dimana gue jadi panitianya.”
“Acara apa itu? Kok aku tak kau ajak, Ken?”
“Mana gue tau! Gue cuma dikasih informasi segitu doang dalam mimpi gue. Pas dia ketemu gue, men, dia terpesona! Takjub! Dia memandang gue dalam-dalam lalu berkata dalam hatinya, ini dia yang gue cari. Ini yang bakal jadi sensasi gue berikutnya…… Lalu perlahan dia berjalan mendekati gue. Gue tatap matanya, Gar! Wuih, penuh hasrat, men! Singkat cerita, gue kemudian ka………..”
“Stop, stop, stop! Tak perlu kau teruskan cerita kau….”
“Kenapa emangya? Kan gue belon selesai cerita?”
“Aku sudah bisa menebak apa kelanjutan cerita kau. Kemudian kau kawin dengan si Luna Maya, dunia hiburan pun geger, beritanya ada di mana-mana, liputannya muncul di setiap infotainment, lantas nama Luna Maya mengorbit kembali…… Begitu kan akhir cerita kau?”
“Kok, lo tau, sih?”
“Bah, itu bualan kau saja. Kebanyakan nonton bokep kau!” serunya kesal sambil berlalu meninggalkan aku.
“Woi, mau kemana lo?
“Aku mau masuk kerja!” Dalam sekejap ia sudah tiba seberang jalan.
“Togaaaar…!! Hutangmu piye……?,” jerit Mbok Surti.
“Besok sajalah! Aku sudah tak mood hari ini……!” teriaknya begitu saja.
“Wooo, dasar gemblung!” Mbok Surti menghentak-hentakan kakinya ke tanah. Wah, kayaknya bakal hujan, nih! Cabut dulu, ah! (*)